Date:

Model Dialog Antar Agama – Dialog Kehidupan

Related Articles

Surabaya, Indonesia – October 11, 2015 Seperti banyak komunitas Salesian di wilayah EAO (Pakistan, Indonesia, Thailand, dan Mindanao), komunitas Salesian di Paroki St. Mikael, Surabaya, setiap hari dibangunkan pukul 03.50 pagi oleh suara azan dari masjid Al Iklash yang berdiri tepat di belakang kompleks paroki dan sekolah.

Paroki St. Mikael, yang dipercayakan kepada Salesian sejak 2008, terletak di wilayah yang tidak begitu luas tetapi sarat dengan keragaman. Di dalam satu kawasan paroki, terdapat tempat ibadah hampir semua agama besar di Indonesia: masjid, gereja Protestan, pura Hindu, hingga kelenteng Tionghoa. Kehidupan sehari-hari di Surabaya ini merefleksikan wajah Asia Timur–Oseania: multibudaya, multietnis, dan multireligius. Namun, sebagaimana ditekankan oleh Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), tiga bentuk dialog — dengan budaya, agama, dan kemiskinan — masih menjadi tantangan bagi gaya hidup Salesian sehari-hari.

Saat kunjungan animasi Fr. Václav Klement, muncul ajakan konkret: melangkah masuk ke tempat ibadah agama lain di sekitar paroki. “Selama empat tahun tinggal di paroki dan sekolah St. Mikael, saya belum pernah masuk ke masjid atau sekolah Islam yang berdampingan langsung dengan kompleks kami,” ujar salah seorang Salesian. “Melalui dorongan Fr. Klement, akhirnya saya berani melangkah masuk ke masjid tetangga.”

Kunjungan pertama ini ternyata membawa pengalaman berharga. Imam Datuk, pensiunan kolonel Angkatan Laut yang pernah bertugas di Laga, Timor Timur, menyambut dengan ramah. Ia bercerita bagaimana pada masa tugasnya di Timor, ia menyaksikan masyarakat menggotong pastor di atas bahu mereka untuk menyeberangi sungai—suatu tanda penghormatan yang membekas dalam hatinya. Bagi Imam Datuk, hidup rukun dan damai antarumat beragama adalah sesuatu yang nyata di Surabaya: “Kita selalu hidup dalam kedamaian dan keharmonisan di sini. Hubungan antaragama berjalan baik, dan kita berbagi nilai-nilai kehidupan sebagai sesama pengikut Allah.”

Komunitas Salesian di Surabaya pun pernah diundang dalam pertemuan ekumenis lintas agama, sebuah kesempatan yang mereka sambut sebagai bagian dari pewartaan Injil melalui kesaksian hidup. Sejalan dengan strategi Delegasi Salesian Indonesia, membangun relasi yang baik dengan umat beragama lain bukan hanya slogan, tetapi panggilan untuk diwujudkan, dimulai dari lingkungan sekitar.

“Langkah pertama memang tidak mudah, tetapi kita selalu disambut dengan keramahan,” ujar salah satu konfrater. “Pengalaman ini meneguhkan kami bahwa dialog kehidupan sungguh mungkin. Ini adalah tanda dan tantangan bagi kita Salesian di Indonesia untuk hidup damai dan rukun dengan para tetangga.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles