RENUNGAN MINGGU XXIII oleh Fr Yudi, SDB
Ketika saya merenungkan Sabda Tuhan yang akan kita dengarkan besok, muncul dalam refleksi saya tentang sosok Tuhan Yesus yang merupakan tempat perteduhan kita turun temurun. Kita seringkali menyingkir dari kehidupan dunia yang begitu keras dan banyak persoalan untuk mencari tempat bersandar. Tuhan Yesus menjadi tempat bersandar dan perteduhan kita. Tuhan Yesus adalah pohon yang rindang, tempat kita berteduh di tengah teriknya kehidupan. Di bawah naungan-Nya, kita menemukan damai dan penghiburan.”
Ia bukan saja sebagai pohon yang rindang, namun ia juga menhasilkan buah untuk kita nikmati. Buahnya adalah rahmat yang membuat kita hidup. Ketika kita makan buah rahmat dari pohonNya, Ia meminta kita bukan hanya sebatas menikmati buah rahmat itu, kita harus ingat buah itu habis dan meninggalkan biji yang kita genggam. Tanamlah itu di tanah perbuatan dan tingkah lakumu agar mengahasilkan banyak buah dan buah itu tetap. Kita akan menjadi pohon juga yang memberikan tempat perteduhan bagi orang di sekitar kita.Ia sangat senang menaungi kita dengan kasih yang tanpa batas. kemurahanNya adalah jalan kita berpijak untuk semakin dekat denganNya. KasihNya bukanlah seperti arah mata angin yang hanya mengarah ke timur, mengarah ke barat, mengarah ke selatan ataupun mengarah ke utara. Tetapi, kasihNya ada disetiap arah, yang mengarahkan kita pada jalan keselamatan yang Ia tawarkan.
Dalam kitab kebijaksanaan, Tuhan menawarkan kepada kita rahmat keselamatan dariNya. Bab 9 ayat 18 berbunyi demikianlah diluruskan Lorong-lorong yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan padaMu, maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan”. Bagaimana cara kita menanggapi rahmat Tuhan yang Cuma-Cuma ini? Kita harus memiliki kebijaksanaan dari Tuhan agar kita memperoleh tempat perteduhan dan menikmati minuman Sabda dari Tuhan dan kita tak sendirian walaupun ombak dunia membawa kita menepi dariNya.
Untuk menikmati minuman sabda dari Tuhan, kita tidaklah sendirian melainkan bersama dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Mereka adalah saudara-saudara kita. Kita harus saling mengasihi sebagi saudara. Kehidupan kita bukan hanya terjadi hari ini, namun kita harus menyadari bahwa harapan untuk masa depan itu sungguh ada. Jika kita kehilangan segalanya di dunia, percayalah harapan masih menemani kita dalam perjalanan hidup ini.
Kebijaksana bukan soal bagaimana kita membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi bagaimana kita menghidupi apa yang berguna dari kebijaksanaan itu sendiri. Saat kita bersandar pada kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan menemukan makna terbesar dalam hidup kita. Apakah kita pernah bertanya, mengapa kita hidup di dunia ini? Hidup bukan hanya tentang bernafas atau berjalan, tapi tentang bagaimana kita menghidupi kasih, seperti yang Tuhan telah hidupi bagi kita.”
Salah satu sifat duniawi yang dimiliki oleh manusia adalah menganggap benar apa yang disukai atau apa yang dimauinya. Perbuatan ini yang menjauhkan kita dari kasih Tuhan dan rasa persaudaraan dengan sesama kita. Ingatlah tempat perteduhan lebih penting dari kenikmatan semata. Kita dipanggil untuk memeluk kasih Tuhan yang adalah keselamatan kekal dan bukan merasa nyaman dengan hal yang lain. Kebijaksanaan adalah kekuatan. Oleh karena itu mengikuti Tuhan berani untuk meninggalkan segala sesuatu yang membuat kita nyaman.