Injil Yohanes 3:13-17 mengajak kita merenungkan betapa besar kasih Allah kepada dunia, hingga Ia mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, bukan untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkannya. Bacaan ini bukan sekadar teks suci, tetapi nyata dalam kehidupan saya pribadi, sebuah kisah kasih yang besar, penderitaan yang dilalui dengan harapan, dan panggilan hidup yang terus bertumbuh.
Saya lahir dalam keluarga Katolik sederhana yang dibangun atas dasar pelayanan dan kasih. Kisah cinta orang tua saya berawal dari kegiatan Mudika, di mana iman menjadi fondasi perjumpaan dan kebersamaan mereka. Sejak kecil, hidup saya tidak mudah, berulang kali mengalami sakit dan kejang, hingga masa kehilangan Kakek bersamaan dengan perjuangan kedua orang tua saya dan para perawat yang merawat saya yang sakit keras di rumah sakit. Namun justru dalam masa-masa gelap itulah kasih Tuhan yang menyelamatkan hadir menyertai.
Seperti Yesus yang tidak datang untuk menghakimi, saya pun belajar untuk tidak menghakimi atau meremehkan siapapun. Hidup ini bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi bagaimana kita saling membangun dan menyelamatkan satu sama lain. Ketika saya merasa kecil, lemah, tidak mampu, saya diingatkan bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari kelemahan saya. Dia tetap mengasihi saya bukan karena saya sempurna, tetapi karena kasih-Nya sempurna.
Ketika saya memutuskan untuk menjawab panggilan Tuhan, saya sadar bahwa saya sedang menaruh bendera kehidupan kekal di depan saya. Hidup ini adalah perjalanan menuju rumah Bapa, dan setiap langkah seberapapun kecil dan sederhana adalah bagian dari rencana kasih-Nya. Bahkan ketika harus meninggalkan hal-hal duniawi, termasuk relasi pribadi yang mendalam, saya percaya bahwa semua itu terjadi karena kasih-Nya lebih dulu memanggil saya.
Bacaan Injil yang akan kita dengarkan besok mengajak saya memiliki sikap rendah hati, mencintai Tuhan dengan segenap akal budi, seperti para filsuf yang ‘mencintai kebijaksanaan’. Namun saya sadar, pengetahuan saja tidak cukup. Kasih adalah jalan keselamatan. Maka saya mohon, semoga saya mampu menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi dunia, seperti Yesus yang diutus bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan. “Sebab Allah mengasihi dunia ini begitu besar.”
Marilah kita semakin rendah hati, sebab kasih Allah lebih besar dari segala sesuatu yang tampak di dunia ini.
Fr. Athan Bayu, SDB