Date:

Antara Mamon dan Kesetiaan: Peringatan Sabda bagi Hati yang Melayani

Related Articles

Renungan saya terbagi ke dalam dua nukilan. Masing-masing nukilan diinspirasi oleh dua bacaan yang berbeda yang akan dibacakan pada Minggu Biasa XXV besok.

Pertama, saya terinspirasi dari bacaan injil yang mengangkat cerita bendahara yang tidak jujur. Kepada para muridnya, Yesus membentangkan perumpamaan ini untuk mengilustrasikan realitas yang kerap terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, yang mana, orang kerap kali membangun persahabatan di mamon yang tidak jujur sehingga ia akhirnya tidak kompatibel dengan nilai kejujuran. Terancam dipecat oleh tuannya, sang bendahara dengan picik mencari jalan pintas dengan memotong utang para pengutang dengan niat mendapat penampungan bilamana ia diberhentikan dari profesinya. Yesus, meneropong, aksi yang picik itu membuat sang bendahara tak cocok ketika dihadapkan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Begitu membaca dan merenungkan perikop, terlintas dalam benak saya dua buah video yang lewat di beranda tiktok saya minggu lalu. Pertama, video mengenai sosok Victor Damian Rozo, seorang pria asal kolombia yang mendirikan Gereja Satanic. Ia mengakui bahwa dirinya Adalah anak Lucifer. Bersama para pengikutnya, mereka melakukan ritual-ritual yang mirip dengan ritual pesugihan dengan maksud bekerja sama dengan iblis supaya mendapatkan banyak uang dalam waktu sekejap. Jalan ini, dipandangnya sebagai jalan cepat untuk mengentas kemiskinan. Banyak orang yang terjerat dalam kemiskinan dan kesulitan hidup pun tergiur untuk menjadi followernya. Kedua video mengenai pendeta kenet Copeland asal Texas yang memiliki jet pribadi dan rumah seharga miliaran juta. Dari jutaan pengikut, ia meminta persepuluhan untuk membeli jet dan hidup seperti selebriti karena ia yakin bahwa semakin kaya dan makmur tanda bahwa mereka diberkati Tuhan. Dan hidup di daerah miskin itu sama seperti hidup dalam tabung gas yang dipenuhi energi negatif, ada demonsnya.

Mengacu pada pesan biblis yang disampaikan Yesus lewat bacaan injil di atas dan dengan inspirasi konkrit dari kedua video ini, saya merenungkan bahwa hidup saya sebagai religius juga berada dalam lingkaran dunia yang dipenuhi dengan dengan ragam tawaran, godaan dan tipuan materialism, yang mana, bila tidak disikapi dengan kehatian-hatian, saya pun bisa terperangkap di dalamnya. Perjumpaan dengan para rekan kerja di tempat kerasulan, perjumpaan dengan para umat kita di paroki, umat di paroki lainnya, perjumpaan dengan para sahabat dan keluarga kerap menjadi momentum yang Istimewa, sebab dari mereka kita, terutama saya sendiri, kerap mendapatkan dukungan dan support untuk setia dalam panggilan.

Pengalaman-pengalaman perjumpaan seperti ini, kerap kali perlu untuk dikritisi, terutama bagi diriku sendiri. Mengapa, bisa saja intensi murni kita dikaburkan oleh hasrat untuk membangun persahabatan yang tidak sehat atau dengan motivasi yang tidak lurus. Misalnya ketika saya mendapatkan dukungan dalam bentuk materi, saya tidak menjadikannya sebagai kesempatan untuk meminta terus di kemudian hari demi kepentingan diri saya sendiri. Sebab bila, realitas yang seperti ini yang terus terjadi, saya bisa terjemurus dalam dunia yang mirip seperti kisah pendeta kenet copland di atas. Bisa jadi saya terjerumus dalam dunia yang diwarnai dengan pencarian akan kekayaan duniawi, sehingga menyimpang dari hakikat panggilan religius. Dengan kata lain, memanfaatkan status sebagai religius, yakni menjual surga kepada umat supaya mendapatkan keuntungan pribadi. Maka, saya merasa pesan dalam bacaan injil besok cukup relevan dan kontekstual dengan situasi kita dalam dunia modern ini. Yesus memberi warning, terutama kepadaku, untuk berhati-hati dalam menjadi figure rohaniawan agar tidak terperangkap dalam pencarian material sehingga menyimpang dari hakekat panggilan sebagai religius/orang yang mengabdi pada satu Tuan yakni Allah di surga.

Kedua, saya terinspirasi dari pertama bacaan pertama dari kitab Amsal, yakni ajakan untuk tidak bermalas-malas. “Hai pemalas jangan membiarkan matamu tidur, hai pemalas jangan membiarkan kelopak matamu mengantuk, seperti kijang yang terperangkap lepaskan dirimu dan pergilah belajar dari semut. Ia menyiapkan roti di musim panas dan mengumpulkan makanan di waktu panen, biarpun tidak ada pemimpin yang mengatur.” Ketika membaca penggalan perikop saya merasa seperti mendapat warning yang keras untuk tidak tertatih-tatih dalam memanfaatkan waktu. Semester ini, saya hanya mengambil dua mata kuliah. Hanya 12 sks. Banyak waktu yang harus saya gunakan secara personal untuk mengeksplorasi laboratorium filsafat, yakni teks-teks klasik dari para filsuf ataupun teks2 yang telah dibaca dan dimodif secara modern oleh para akademisi. Berhubung banyak waktu maka kadangkala muncul sikap enggan untuk menulis atau membuat summary mengenai hasil pembacaan saya. Alasannya ah kurang keren atau ide belum perfect. Akhirnya waktu memang digunakan untuk belajar tetapi saya merasa kurang efesien sebab pencapaiaan-pencapaian dalam bentuk tulisan yang dihasilkan masih sedikit. Maka, nasehat daud dalam Amsal ini, saya rasa sangat kontekstual dengan keadaan sayaa saat ini. saya merasa untuk tidak terleha-leha dalam mengerjakan tugas-tuggas kuliah saya, tetapi harus cegatan. Semoga setelah minggu besok dengan pesan biblis dari penggalan perikop kita amsal ini, saya dibangkitkan dari sikap berleha-leha sehingga lebih antusian, optimis dan cegatan dalam menyelesaikan skripsi saya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles