Aula Domenica Mazzarello – Paroki St. Yohanes Bosco, Sunter, Jakarta, Sabtu, 25 Oktober 2025 — Hari Sabtu yang dipenuhi rahmat dan sukacita di Paroki St. Yohanes Bosco di Sunter, Jakarta, dipenuhi lebih dari 250 umat beriman yang berkumpul di Aula Domenica Mazzarello untuk mengikuti seminar rohani bertajuk “Ekaristi, Kasih, dan Harapan: Perjalanan Hidup Beata Alexandrina Maria da Costa.” Suasananya hangat, penuh doa, dan ceria — sungguh mencerminkan semangat kekudusan Salesian yang dihayati dengan sukacita.
Beberapa minggu sebelum acara, para Koperasi Salesian Jakarta–Sunter, di bawah kepemimpinan Romo Noel, SDB, telah mempersiapkan diri dengan antusiasme dan kreativitas yang luar biasa. Selebaran promosi dibagikan baik secara digital maupun cetak; stan pendaftaran dibuka setelah Misa akhir pekan; dan Romo Noel sendiri dengan tekun membagikan selebaran refleksi harian yang mengisahkan kisah dan spiritualitas Beata Alexandrina. Sungguh sebuah perwujudan inspiratif dari evangelisasi modern—gaya Don Bosco!
Semangat Gemilang Para Kooperator Salesian – “Blasar”
Para Kooperator Salesian — yang akrab disapa Blasar (singkatan dari Blessed Salesians) — adalah anggota awam yang menghayati karisma Don Bosco dalam kehidupan sehari-hari. Mereka membawa kasih Kristus kepada keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, terutama di kalangan muda dan miskin. Selama seminar ini, mereka tidak hanya berperan sebagai organisator, tetapi menjadi saksi iman sejati dalam pelayanan yang penuh sukacita.
Ekaristi, Kasih, dan Harapan dalam Kehidupan Beata Alexandrina
Acara dimulai dengan sesi pembuka percakapan yang ringan yang dipimpin oleh moderator, memenuhi aula dengan senyum dan tawa. Hal ini menjadi pengingat bahwa kekudusan memang dapat bersemi di tanah sukacita—ciri khas spiritualitas Don Bosco.
Para peserta kemudian dipandu melalui dua sesi utama yang mengeksplorasi kedalaman hidup dan iman Alexandrina:
Sesi pertama, yang dibawakan oleh Romo. Ambrosius, SDB, dengan gamblang menceritakan kisah heroik Alexandrina—seorang perempuan muda yang mempertahankan kesuciannya dengan mengorbankan kesehatannya, hidup bertahun-tahun dalam kelumpuhan, dan akhirnya mempersembahkan penderitaannya dalam persatuan dengan Kristus. Romo Ambrosius menekankan panggilannya sebagai Tawanan Cinta dan Jiwa Korban, yang seluruh keberadaannya hanya dipupuk oleh Ekaristi, sumber sejati cinta dan harapan.
Sesi kedua, yang disampaikan oleh Romo Sevrin, SDB, memperdalam refleksi tentang spiritualitas Alexandrina tentang pemulihan dan cinta penebusan. Dengan wawasan yang tenang, beliau mengajak para peserta untuk memandang penderitaan bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai anugerah yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. “Ketika engkau menderita,” katanya dengan lembut, “jangan tanya mengapa — tanyakan untuk siapa.”
Hati yang Penuh Perhatian dan Pertanyaan yang Menggugah Semangat
Para peserta mengikuti setiap presentasi dengan penuh perhatian dan emosi. Dalam forum terbuka, seorang peserta bertanya dengan rasa ingin tahu yang tulus, “Romo, dengan kehidupan yang begitu luar biasa, mengapa ia masih bergelar Beata dan belum menjadi Santa Alexandrina?”
Pertanyaan itu mengundang tawa hangat dari hadirin, namun mengungkapkan kekaguman yang tulus terhadap wanita beriman yang luar biasa ini.
Pesan Penutup tentang Kasih dan Persembahan
Dalam sambutan penutupnya, Romo Noel, SDB, menyampaikan sebuah refleksi yang merangkum seluruh acara dengan indah: “Jika Anda menderita, jangan sia-siakan. Sesuatu untuk diderita – sesuatu untuk dipersembahkan!”
Ia mendorong setiap orang untuk melihat kesulitan hidup sebagai kesempatan untuk mengasihi dan memberi, sebagaimana Beata Alexandrina mengubah rasa sakitnya menjadi tindakan persembahan Ekaristi yang murni.
Seminar ditutup dengan tepuk tangan meriah, senyum gembira, dan iman yang diperbarui. Beberapa peserta berlama-lama untuk berfoto, yang lain berbagi refleksi dengan penuh rasa syukur. Seorang peserta berkata dengan lembut, “Saya datang untuk belajar tentang seorang Beata… tetapi saya pulang ke rumah setelah bertemu seorang teman yang mengajari saya cara mengasihi.”
Kesimpulan
Seminar “Ekaristi, Kasih, dan Harapan” lebih dari sekadar acara spiritual—seminar ini merupakan pengalaman perjumpaan dan pembaruan. Perayaan ini mengingatkan semua yang hadir bahwa dalam Ekaristi kita menemukan sumber kasih sejati, dari kasih muncul harapan, dan dari harapan muncul kekuatan untuk mempersembahkan diri kepada Allah.
Melalui kesaksian Beata Alexandrina Maria da Costa, kita diundang untuk mengubah setiap penderitaan, setiap tantangan, dan setiap tindakan kasih menjadi kurban hidup yang memuliakan Allah.