Date:

Para Tamu Yang Diundang ke Pesta Perkawinan

Related Articles

RENUNGAN MINGGU XXII  oleh Fr Erick, SDB

Selamat Pagi, para sama saudara yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini saya bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk membagikan renungan singkat sebagai pengalaman pertama saya di komunitas Postnovisiat. Renungan yang saya bawakan terkait dengan bacaan dari Injil Matius pada hari Minggu.

Bacaan Injil yang mengisahkan perumpamaan tentang para tamu yang diundang ke pesta perkawinan. Kisah ini mau berbicara tentang perihal mencari kehormatan dan kedudukan. Setiap manusia kadang tak luput dari pengalaman sederhana dimana kedudukan dan kehormatan, sebagai wadah bagi hasrat manusia untuk memiliki. Terkadang peristiwa ini sebagai tanda sifat alamiah manusia yang ingin mengekspresikan diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Selain itu Yesus juga memberikan pemahaman tentang status antara tuan pesta dan tamu undangan. Walaupun ada beberapa perbedaan, tetapi ada sebuah hubungan yang saling terikat karena adanya sebuah undangan. Biarlah tuan pesta yang mengatur, dan tamu undangan bersikap dengan sederhana dan teratur.

Dan juga Yesus memberikan sebuah tantangan bagi siapa yang mengadakan pesta untuk orang miskin yang tidak memiliki apapun untuk diberikan. Pengalaman berbagi waktu dan tenaga dengan anak-anak dari kampung belakang saat bermain bola. Seperti jamuan pesta untuk orang-orang miskin dan tidak punya apa-apa. Anak-anak yang belum tentu mendapat kesempatan bermain bola dengan sarana yang tersedia, tanpa dipungut biaya. Tidak ada rasa rugi jika membantu dengan hati ikhlas.

Bacaan Injil ini secara langsung mengingatkan saya kembali betapa pentingnya refleksi harian yang memiliki beragam kesan. Kesan-kesan itu adalah buah yang tumbuh dari permenungan saya sampai saat ini, khususnya dalam menjalani masa pembinaan di Postnovisiat. Refleksi harian bukan dalam bentuk tertulis lagi seperti di masa novisiat, tetapi melihat realitas secara langsung.

Jika berbicara tentang kehormatan dan kedudukan tampaknya tidak terlihat saat kuliah berlangsung di STF. Banyak mahasiswa yang lebih memilih duduk di belakang daripada di depan. Tampaknya ketidaktahuan membuahkan kesadaran diri untuk semakin rendah hati. Tapi lebih daripada itu fenomena tersebut menjadi salah satu tanda manusiawi.
Sebagai Salesian muda, nilai kedewasaan dengan semangat Don Bosco terlihat dari caranya menanggapi sebuah ketaatan sebagai arahan dari formator. Tidak perlu ada perhitungan dalam hidup berkomunitas ketika menjalani ketaatan yang menuntut imbalan, seperti upah. Karena pada dasarnya upah yang dimaksud lebih dari ketaatan yang dilakukan, contohnya seperti rahmat hidup ini. Saya bersyukur melalui pengalaman refleksi yang sederhana ini membuat saya mengenal lebih dalam kasih Tuhan. Kasih yang tumbuh dalam hidup komunitas yang saling berbagi dengan setiap keunikan yang dimiliki. Menjadi pemula bukanlah sesuatu yang salah ketika mendapat koreksi dari setiap hal yang terjadi, sama seperti di tempat yang rendah. Karena melalui pengalaman itu saya belajar setiap hal yang baru saya alami memang butuh usaha yang lebih ekstra, dan tidak hanya terjadi satu kali saja. Semoga kita sebagai umat beriman selalu menyadari kerendahan hati menjadi pengalaman untuk mengenal Tuhan lebih dekat sebagai pegangan hidup sebagai religius khususnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles