Paus Fransiskus Memilih Indonesia sebagai Tahap Pertama Perjalanan Apostolik ke-45
Lebih dari Tiga Dekade Kehadiran Salesian di Negeri Seribu Pulau
Sebagai tahap pertama dari Perjalanan Apostolik ke-45, yang juga merupakan perjalanan terpanjang masa pontifikatnya, Paus Fransiskus memilih Indonesia. Negara ini telah menjadi rumah bagi karya Salesian selama lebih dari 30 tahun, dengan berbagai karya kerasulan yang melayani kaum muda—khususnya mereka yang miskin dan paling membutuhkan, sesuai dengan semangat Don Bosco.
Sekilas tentang Indonesia
Indonesia adalah negara Asia Tenggara yang terletak di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, meski banyak di antaranya belum berpenghuni. Pulau-pulau terbesar seperti Jawa, Kalimantan, Papua, Sumatra, dan Sulawesi menampung sebagian besar penduduk.
Negeri ini sangat beragam, dengan sekitar 1.300 kelompok etnis. Pemerintah mengakui enam agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dari total 275 juta jiwa, 86,7% beragama Islam, menjadikannya negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Umat Kristiani berjumlah 10,7%, dengan 3,12% di antaranya Katolik (sekitar 8,3 juta umat di 39 keuskupan).
Awal Kehadiran Salesian
Para Salesian tiba di Jakarta pada 1985, tinggal di rumah kontrakan sederhana yang letaknya berhadapan dengan sebuah masjid. P. José Carbonell Llopes menjadi rektor pertama. Awalnya, kehadiran ini bukan ditujukan untuk karya khusus di Indonesia, melainkan sebagai basis masuknya misionaris ke Timor Timur yang saat itu masih dikuasai pemerintah Indonesia.
Namun, permintaan pelayanan segera berdatangan. Sekolah Teknik “Strada” yang dikelola Yesuit meminta Salesian untuk merayakan Misa bulanan dan melayani sakramen tobat bagi para siswa Katolik. Dari sinilah benih panggilan Salesian di Indonesia mulai tumbuh.
Selama hampir 15 tahun, perhatian utama karya Salesian terarah pada Timor Timur. Baru setelah 1999, ketika militer Indonesia meninggalkan wilayah tersebut, Salesian mulai mengembangkan pelayanan pastoral di Indonesia. Setelah bertahun-tahun menjadi Delegasi Provinsial dalam Provinsi ITM (Indonesia–Timor Timur), pada 2018 berdirilah Wakil Provinsi Salesian Indonesia (INA) yang otonom, dengan pelindung St. Louis Versiglia.
Karya dan Komunitas Saat Ini
Kini, Wakil Provinsi INA memiliki 8 komunitas Salesian di tiga pulau:
Pulau Jawa: Blitar, Purwodadi, Surabaya, Tigaraksa, serta dua komunitas di Jakarta (Sunter dan Wisma).
Pulau Sumba: komunitas Salesian dengan karya pendidikan dan pastoral.
Pulau Flores (Labuan Bajo): dibuka pada 2022 atas permintaan Penerus ke-10 Don Bosco, kini Kardinal Ángel Fernández Artime.
INA didukung oleh 59 Salesian, beberapa di antaranya telah diutus menjadi misionaris ke berbagai negara seperti Ekuador, Brasil, Mongolia, Belanda, Paraguay, dan Papua Nugini.
Ciri Khas Misi: Formasi dan Pendidikan
Karya Salesian di Indonesia dikenal dengan formasi vokasional. Pusat-pusat pelatihan menawarkan kursus bahasa Inggris, komputer, mekanik kendaraan, pertukangan, las, listrik, dan berbagai bidang teknis yang membantu kaum muda memperoleh akses kerja yang layak. Pusat-pusat ini juga bekerja sama erat dengan industri dan perusahaan lokal.
Selain keterampilan teknis, Salesian tetap mengutamakan Sistem Preventif Don Bosco, yang dijalankan di sekolah, pusat pelatihan, dan karya-karya pastoral. Seperti diungkapkan oleh P. Andre Delimarta (kini misionaris di Malaysia):
“Di mana pun kami pergi, kami selalu menemukan banyak kaum muda yang miskin dan terlantar. Mereka membutuhkan bukan hanya bantuan pendidikan dan rohani, tetapi juga ekonomi. Banyak berasal dari keluarga petani yang hidupnya bergantung pada kondisi alam. Misalnya, siswa-siswa Sumba membayar biaya sekolah dengan biji-bijian atau hewan ternak: kambing, babi, atau ayam.”
Masa Depan yang Cerah
Misi Salesian di Indonesia, yang tumbuh di tengah masyarakat multiagama dan sebagai minoritas Kristiani, merupakan tanda nyata bahwa tujuan utama kehadiran ini adalah kesejahteraan kaum muda, tanpa membedakan agama mereka.
Hari ini, karya Salesian semakin dihargai oleh masyarakat dan Gereja lokal. Banyak uskup meminta dukungan Salesian untuk melayani kaum muda di keuskupan mereka. Faktor yang memberi harapan besar adalah usia muda para Salesian Indonesia, serta berkembangnya Keluarga Salesian: Kooperator Salesian, Puteri Maria Penolong Umat Kristiani, ratusan alumni pusat pelatihan, dan anggota ADMA yang mulai bertumbuh.
Dengan semangat ini, Salesian Indonesia terus mewartakan harapan, melayani kaum muda, dan mewujudkan impian Don Bosco: membentuk “orang muda yang baik Kristiani dan warga negara yang jujur.”