Beranda blog Halaman 12

Kekudusan Salesian

Keluarga Don Bosco, dalam mengembangkan spiritualitas khas yang berasal dari kharisma pendiriannya, memperkaya seluruh Tubuh Gereja dengan sebuah model hidup kristiani yang khas (kekudusan). Kesaksian tentang hal ini tampak dalam barisan rohaniwan dan rohaniwati, putra-putri spiritual Don Bosco, yang telah dinyatakan kudus atau sedang menapaki jalan beatifikasi dan kanonisasi.
(Art. 6)

…Kepada Allah inilah, Bapa yang penuh belas kasih, Don Bosco mengarahkan doa hatinya: “Da mihi animas, cetera tolle.” Kepada semua muridnya, pria maupun wanita, Don Bosco selalu mengulangi: “Hal yang paling ilahi dari segala yang ilahi adalah bekerja sama dengan Allah dalam penyelamatan jiwa-jiwa, dan itu adalah jalan yang pasti menuju kekudusan yang paling tinggi.”
(Art. 23)

Spiritualitas yang diwariskan dari Don Bosco sangat bernuansa gerejawi: ia mengekspresikan dan memelihara persekutuan Gereja, membangun dalam komunitas-komunitas kristiani suatu jaringan relasi persaudaraan dan kerja sama yang aktif; ia merupakan spiritualitas pendidikan yang berupaya membantu kaum muda dan kaum miskin agar merasa diterima di dalam Gereja, serta menjadi pembangun Gereja dan pengambil bagian dalam perutusannya; ia adalah spiritualitas yang memperkaya seluruh Gereja dengan anugerah kekudusan dari begitu banyak putra dan putrinya.
(Art. 26)

(Semua kutipan berasal dari Piagam Identitas Kharismatik Keluarga Salesian Don Bosco.)

Don Bosco Bapa dan Guru

Tuhan telah memberikan kepada kita Don Bosco sebagai bapa dan guru.

Kita mempelajari dan meneladaninya, mengagumi dalam dirinya perpaduan yang indah antara kodrat manusiawi dan rahmat ilahi.

Ia sangat manusiawi, kaya akan kualitas bangsanya dan terbuka terhadap realitas dunia ini; dan pada saat yang sama ia sungguh-sungguh adalah pribadi Allah, dipenuhi dengan karunia Roh Kudus dan hidup “sebagaimana melihat Dia yang tak kelihatan”.

Kedua aspek ini bersatu membentuk suatu proyek hidup yang terpadu: pelayanan bagi kaum muda.

Ia mewujudkan tujuannya dengan keteguhan, ketekunan, dan kepekaan hati yang murah hati, di tengah kesulitan dan kelelahan.

“Tidak satu langkah pun ia ambil, tidak satu kata pun ia ucapkan, tidak satu tugas pun ia lakukan yang tidak diarahkan untuk keselamatan kaum muda… Sungguh, satu-satunya keprihatinan hatinya adalah keselamatan jiwa-jiwa.”
(kata-kata Beato Michael Rua, penerus pertamanya)

(Sumber: Konstitusi, artikel 21)

Tiga Dekade Kehadiran Salesian di Negeri Seribu Pulau

Paus Fransiskus Memilih Indonesia sebagai Tahap Pertama Perjalanan Apostolik ke-45
Lebih dari Tiga Dekade Kehadiran Salesian di Negeri Seribu Pulau

Sebagai tahap pertama dari Perjalanan Apostolik ke-45, yang juga merupakan perjalanan terpanjang masa pontifikatnya, Paus Fransiskus memilih Indonesia. Negara ini telah menjadi rumah bagi karya Salesian selama lebih dari 30 tahun, dengan berbagai karya kerasulan yang melayani kaum muda—khususnya mereka yang miskin dan paling membutuhkan, sesuai dengan semangat Don Bosco.

Sekilas tentang Indonesia

Indonesia adalah negara Asia Tenggara yang terletak di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, meski banyak di antaranya belum berpenghuni. Pulau-pulau terbesar seperti Jawa, Kalimantan, Papua, Sumatra, dan Sulawesi menampung sebagian besar penduduk.

Negeri ini sangat beragam, dengan sekitar 1.300 kelompok etnis. Pemerintah mengakui enam agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dari total 275 juta jiwa, 86,7% beragama Islam, menjadikannya negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Umat Kristiani berjumlah 10,7%, dengan 3,12% di antaranya Katolik (sekitar 8,3 juta umat di 39 keuskupan).

Awal Kehadiran Salesian

Para Salesian tiba di Jakarta pada 1985, tinggal di rumah kontrakan sederhana yang letaknya berhadapan dengan sebuah masjid. P. José Carbonell Llopes menjadi rektor pertama. Awalnya, kehadiran ini bukan ditujukan untuk karya khusus di Indonesia, melainkan sebagai basis masuknya misionaris ke Timor Timur yang saat itu masih dikuasai pemerintah Indonesia.

Namun, permintaan pelayanan segera berdatangan. Sekolah Teknik “Strada” yang dikelola Yesuit meminta Salesian untuk merayakan Misa bulanan dan melayani sakramen tobat bagi para siswa Katolik. Dari sinilah benih panggilan Salesian di Indonesia mulai tumbuh.

Selama hampir 15 tahun, perhatian utama karya Salesian terarah pada Timor Timur. Baru setelah 1999, ketika militer Indonesia meninggalkan wilayah tersebut, Salesian mulai mengembangkan pelayanan pastoral di Indonesia. Setelah bertahun-tahun menjadi Delegasi Provinsial dalam Provinsi ITM (Indonesia–Timor Timur), pada 2018 berdirilah Wakil Provinsi Salesian Indonesia (INA) yang otonom, dengan pelindung St. Louis Versiglia.

Karya dan Komunitas Saat Ini

Kini, Wakil Provinsi INA memiliki 8 komunitas Salesian di tiga pulau:

Pulau Jawa: Blitar, Purwodadi, Surabaya, Tigaraksa, serta dua komunitas di Jakarta (Sunter dan Wisma).

Pulau Sumba: komunitas Salesian dengan karya pendidikan dan pastoral.

Pulau Flores (Labuan Bajo): dibuka pada 2022 atas permintaan Penerus ke-10 Don Bosco, kini Kardinal Ángel Fernández Artime.

INA didukung oleh 59 Salesian, beberapa di antaranya telah diutus menjadi misionaris ke berbagai negara seperti Ekuador, Brasil, Mongolia, Belanda, Paraguay, dan Papua Nugini.

Ciri Khas Misi: Formasi dan Pendidikan

Karya Salesian di Indonesia dikenal dengan formasi vokasional. Pusat-pusat pelatihan menawarkan kursus bahasa Inggris, komputer, mekanik kendaraan, pertukangan, las, listrik, dan berbagai bidang teknis yang membantu kaum muda memperoleh akses kerja yang layak. Pusat-pusat ini juga bekerja sama erat dengan industri dan perusahaan lokal.

Selain keterampilan teknis, Salesian tetap mengutamakan Sistem Preventif Don Bosco, yang dijalankan di sekolah, pusat pelatihan, dan karya-karya pastoral. Seperti diungkapkan oleh P. Andre Delimarta (kini misionaris di Malaysia):

“Di mana pun kami pergi, kami selalu menemukan banyak kaum muda yang miskin dan terlantar. Mereka membutuhkan bukan hanya bantuan pendidikan dan rohani, tetapi juga ekonomi. Banyak berasal dari keluarga petani yang hidupnya bergantung pada kondisi alam. Misalnya, siswa-siswa Sumba membayar biaya sekolah dengan biji-bijian atau hewan ternak: kambing, babi, atau ayam.”

Masa Depan yang Cerah

Misi Salesian di Indonesia, yang tumbuh di tengah masyarakat multiagama dan sebagai minoritas Kristiani, merupakan tanda nyata bahwa tujuan utama kehadiran ini adalah kesejahteraan kaum muda, tanpa membedakan agama mereka.

Hari ini, karya Salesian semakin dihargai oleh masyarakat dan Gereja lokal. Banyak uskup meminta dukungan Salesian untuk melayani kaum muda di keuskupan mereka. Faktor yang memberi harapan besar adalah usia muda para Salesian Indonesia, serta berkembangnya Keluarga Salesian: Kooperator Salesian, Puteri Maria Penolong Umat Kristiani, ratusan alumni pusat pelatihan, dan anggota ADMA yang mulai bertumbuh.

Dengan semangat ini, Salesian Indonesia terus mewartakan harapan, melayani kaum muda, dan mewujudkan impian Don Bosco: membentuk “orang muda yang baik Kristiani dan warga negara yang jujur.”

Two long weeks I wandered

Through two long weeks I wandered, stumbling through the nights guided only by the stars and hiding during the days behind some protruding rock or among the occasional hills I traversed.
For two days I waited there for Kantos Kan, but as he did not come I started off on foot in a northwesterly direction toward a point where he had told me lay the nearest waterway.

I shouted above the sudden noise.

I believe I have broken a finger here against his cursed jaw ain’t those mincing knives down in the forecastle there, men? look to those handspikes, my hearties. Captain, by God, look to yourself say the word don’t be a fool; forget it all; we are ready to turn to treat us decently, and we’re your men; but we won’t be flogged.

I and my wife stood amazed. Then I realised that the crest of Maybury Hill must be within range of the Martians’ Heat-Ray now that the college was cleared out of the way. At that I gripped my wife’s arm, and without ceremony ran her out into the road. Then I fetched out the servant, telling her I would go upstairs myself for the box she was clamouring for.

At daybreak of the fifteenth day of my search

I could find no bell or other method of making my presence known to the inmates of the place, unless a small round role in the wall near the door was for that purpose. It was of about the bigness of a lead pencil and thinking that it might be in the nature of a speaking tube I put my mouth to it and was about to call into it when a voice issued from it asking me whom I might be, where from, and the nature of my errand.

Without sound we lay there, the beast exerting every effort to reach me with those awful fangs, and I straining to maintain my grip and choke the life from it as I kept it from my throat. Slowly my arms gave to the unequal struggle, and inch by inch the burning eyes and gleaming tusks of my antagonist crept toward me, until, as the hairy face touched mine again.

Through two long weeks I wandered, stumbling through the nights guided only by the stars and hiding during the days behind some protruding rock or among the occasional hills I traversed.

I could find no bell or other method of making my presence known to the inmates of the place, unless a small round role in the wall near the door was for that purpose. It was of about the bigness of a lead pencil and thinking that it might be in the nature of a speaking tube I put my mouth to it and was about to call into it when a voice issued from it asking me whom I might be, where from, and the nature of my errand.

For two days I waited there for Kantos Kan, but as he did not come I started off on foot in a northwesterly direction toward a point where he had told me lay the nearest waterway. My only food consisted of vegetable milk from the plants which gave so bounteously of this priceless fluid.