Beranda blog Halaman 11

Salesian Don Bosco

Salesian Don Bosco di seluruh dunia berjumlah 14.476 orang, termasuk Uskup dan novis. Mereka hadir di seluruh benua di 133 negara. Karya mereka dapat dikelompokkan ke dalam Regio, Provinsi, dan Kehadiran lokal. Terdapat 7 Regio yang terdiri dari 90 Provinsi dengan karya yang meliputi formasio, oratorium, pusat kepemudaan, sekolah, pusat residensial, orientasi panggilan, paroki, karya sosial, komunikasi sosial, dan pelayanan provinsi.

Keluarga Salesian terdiri dari 33 Kelompok berbeda yang telah muncul selama bertahun-tahun dan terinspirasi oleh gaya dan karisma Don Bosco.

Empat kelompok pertama yang muncul semasa hidup Don Bosco adalah Putri-Putri Maria Penolong Umat Kristiani, Kooperator Salesian, Mantan Murid Don Bosco, dan Asosiasi Maria Penolong Umat Kristiani (ADMA).

(Sumber: CG28 dan Dati Statistici, 2020 dan Flash 2019)

Akal Budi

Akal Budi: Nilai-nilai tentang apa yang baik, serta tujuan yang hendak dicapai.

Istilah “akal budi” (reason) menekankan, sesuai dengan pandangan otentik humanisme Kristiani, nilai pribadi manusia, suara hati, kodrat manusia, kebudayaan, dunia kerja, kehidupan sosial—singkatnya seluruh rangkaian nilai yang dapat dianggap sebagai bekal penting bagi manusia dalam kehidupan keluarga, sipil, dan politiknya.

Dalam Ensiklik Redemptor Hominis, aku mengingatkan bahwa Yesus Kristus adalah jalan utama bagi Gereja: jalan yang membawa dari Kristus kepada manusia.

Sangat signifikan bahwa lebih dari seratus tahun yang lalu Don Bosco memberi perhatian besar pada dimensi manusiawi dan kondisi historis tiap pribadi: pada kebebasannya, persiapannya menghadapi hidup dan profesi, kemampuan memikul tanggung jawab sosial dalam suasana sukacita dan komitmen besar bagi sesama.
Ia menyatakan tujuan-tujuan ini dengan kata-kata yang sederhana namun kuat seperti: “sukacita”, “belajar”, “kesalehan”, “kebijaksanaan”, “kerja”, “kemanusiaan”.

Ideal pendidikannya ditandai oleh keseimbangan dan realisme.
Dalam rencana pedagogisnya, terdapat perpaduan yang harmonis antara hal-hal yang hakiki dan tetap dengan apa yang bersifat historis dan berubah; antara apa yang tradisional dan apa yang baru.

Sang Santo menawarkan kepada kaum muda sebuah program yang sederhana namun menuntut, yang dengan indah dirangkum dalam ungkapan penuh makna:
“menjadi warga negara yang baik karena seorang Kristiani yang baik.”

Secara singkat, “akal budi”—yang bagi Don Bosco adalah anugerah Allah sekaligus kewajiban mendasar seorang pendidik—menunjuk pada nilai-nilai kebaikan, tujuan yang hendak dicapai, serta sarana dan cara menggunakannya.
“Akal budi” mengajak kaum muda pada sikap berbagi nilai-nilai yang telah mereka pahami dan terima.

Ia juga menyebutnya sebagai “kewajaran” (reasonableness) karena selalu disertai pengertian, dialog, dan kesabaran tanpa henti, melalui mana penerapan akal budi—yang tidak mudah—dinyatakan.

Benar bahwa semua ini mengandaikan pada zaman sekarang suatu antropologi yang integral dan mutakhir, bebas dari penyederhanaan ideologis.

Pendidik modern harus mampu membaca tanda-tanda zaman secara mendalam, untuk menangkap nilai-nilai baru yang semakin menarik bagi kaum muda:
perdamaian, kebebasan, keadilan, persekutuan dan berbagi, peningkatan martabat perempuan, solidaritas, pembangunan, serta tuntutan ekologis yang mendesak.

(Yohanes Paulus II, Surat Iuvenum Patris, 10)

Preventive System

Akal Budi, Agama, dan Cinta Kasih

“Don Bosco mewujudkan kekudusannya melalui komitmen pendidikan”
(Paus Yohanes Paulus II, Juvenum Patris, 5).

Dari pengalaman inilah lahir praksis pastoral dan gaya pedagogisnya.
Kehidupan rohani, komitmen kerasulan, dan metode pendidikan adalah tiga aspek dari satu kenyataan yang sama: kasih dan cinta pastoral yang mempersatukan dan menggerakkan seluruh hidup, yaitu menjadi tanda dan pembawa kasih Allah bagi kaum muda dalam Gereja.

“Sistem ini sepenuhnya berdasar pada akal budi, religi, dan terutama kasih sayang.”
Don Bosco

Sistem Preventif sebagai:

  • Metode Pedagogis (Pedagogy)
  • Usulan untuk Evangelisasi Kaum Muda (Pastoral Ministry)
  • Pengalaman Rohani (Spirituality)

Sistem Preventif sebagai Pedagogi

Sistem Preventif adalah metode pedagogis yang ditandai oleh:

  • Kemauan untuk hadir di tengah kaum muda, berbagi hidup mereka, memandang dunia mereka dengan simpatik, dan peka terhadap pengalaman nyata serta nilai-nilai yang mereka miliki.
  • Penerimaan tanpa syarat, yang menjadi kemampuan tak kenal lelah untuk berdialog dan kekuatan yang mendorong pertumbuhan mereka.
  • Kriteria preventif, yakni keyakinan bahwa setiap anak muda, bahkan yang paling membutuhkan, memiliki kebaikan dalam dirinya yang dapat dikembangkan melalui pengalaman positif.
  • Pusat pada akal budi yang tampak dalam kewajaran tuntutan dan peraturan, fleksibilitas serta daya persuasif dalam mengajukan usulan.
    Demikian pula religiositas, yakni mengembangkan kesadaran akan Allah yang hadir dalam setiap pribadi serta kekuatan evangelisasi kristiani.
    Dan juga kasih sayang, yang tampak sebagai cinta pendidikan yang memungkinkan pertumbuhan dan mempertemukan hati serta budi.
  • Lingkungan yang positif, sarat relasi personal, dihidupkan oleh kehadiran pendidik yang penuh kasih, dapat diandalkan, aktif, dan mendorong semangat kaum muda.
  • Gaya animasi, yang percaya pada sumber daya positif kaum muda.

Sistem Preventif sebagai Pelayanan Pastoral

Usulan khas ini untuk evangelisasi kaum muda bermula dari perjumpaan dengan mereka di tempat mereka berada, dengan menghargai warisan alami dan supranatural yang dimiliki setiap pribadi muda, dalam lingkungan pendidikan yang kaya akan tawaran dan pendampingan.

Pendekatan ini:

  • mengutamakan kaum muda yang paling miskin dan membutuhkan,
  • memajukan dan menumbuhkan kemampuan positif yang ada dalam diri mereka,
  • dan mengajak mereka pada suatu bentuk hidup kristiani dan kekudusan khas kaum muda.

Proyek hidup kristiani ini disusun melalui pengalaman iman dan pilihan nilai Injili yang khas, yang membentuk Spiritualitas Kaum Muda Salesian (Salesian Youth Spirituality – SYS).


Sistem Preventif sebagai Spiritualitas

Sistem Preventif menemukan sumber dan pusatnya dalam pengalaman akan kasih Allah, yang melalui Penyelenggaraan-Nya “mendahului” setiap makhluk—itulah makna sesungguhnya dari preventive.

Kasih Allah ini menyertai, menyelamatkan, dan menghidupkan setiap pribadi.

Pengalaman ini:

  • membuka hati pendidik untuk mengenali kehadiran Allah dalam diri kaum muda,
  • meyakinkan pendidik bahwa melalui mereka Allah menawarkan rahmat perjumpaan dengan-Nya,
  • memanggil pendidik untuk melayani Allah dalam diri kaum muda,
  • memperbarui iman pada kemampuan dasar kebaikan dalam diri mereka,
  • dan mendidik mereka menuju kepenuhan hidup.

Cinta pastoral ini menciptakan relasi edukatif yang sesuai dengan kondisi kaum muda—terutama yang paling miskin.
Ia lahir dari keyakinan bahwa setiap hidup, bahkan yang paling miskin, paling rumit, dan paling rapuh, mengandung kekuatan penebusan dan benih kebahagiaan — melalui kehadiran Roh Kudus yang misterius dan nyata.

Keluarga Salesian

  • 1. Salesians of Don Bosco (SDB)
  • 2. Daughters of Mary Help of Christians (FMA)
  • 3. Salesian Cooperators (SC)
  • 4. The Association of Mary Help of Christians
  • 5. Past Pupils of Don Bosco
  • 6. Past Pupils of the FMA
  • 7. Women Volunteers of Don Bosco
  • 8. Daughters of Sacred Hearts of Jesus and Mary
  • 9. Salesian Oblates of the Sacred Heart
  • 10. Apostles of the Holy Family
  • 11. The Sisters of Charity of Jesus
  • 12. The Missionary Sisters of Mary Help of Christians
  • 13. The Daughters of the Divine Saviour
  • 14. The Sisters Servants of the Immaculate Heart of Mary
  • 15. The Sisters of Jesus the Adolescent
  • 16. The Association of the Damas Salesianas
  • 17. Volunteers with Don Bosco
  • 18. The Catechists Sisters of Mary Immaculate Help of Christians
  • 19. The Daughters of the Queenship of Mary Immaculate
  • 20. Witnesses of the Risen Lord
  • 21. The Congregation of St. Michael the Archangel
  • 22. The Congregation of Sisters of the Resurrection
  • 23. The Congregation of the Sisters Announcers of the Lord
  • 24. The Disciples – Secular Institute
  • 25. The Comunity of “Canção Nova”
  • 26. The Sisters of St Michael the Archangel (Michaelites)
  • 27. The Sisters of Maria Auxiliatrix
  • 28. The Community of the Mission of Don Bosco (CMB)
  • 29. The Sisters of the Queenship of Mary Immaculate
  • 30. Visitation Sisters of Don Bosco (VSDB)
  • 31. Fraternidad comtemplativa maria de nazaret (FCMN)
  • 32. The Sisters Mediators of Peace (MP)

Keluarga Salesian

Don Bosco menginspirasi lahirnya sebuah gerakan besar yang terdiri dari banyak orang yang, dengan cara yang berbeda-beda, bekerja demi kesejahteraan kaum muda. Ia sendiri mendirikan bukan hanya Serikat Santo Fransiskus dari Sales (Salesian Don Bosco), tetapi juga Kongregasi Puteri Maria Penolong Umat Kristiani serta Asosiasi Koperatur Salesian.

Termasuk ketiga kelompok ini dan kelompok-kelompok lain yang muncul di berbagai belahan dunia, Keluarga Salesian saat ini terdiri dari 32 kelompok yang secara resmi diakui, dengan total 402.500 anggota.

Kelompok-kelompok ini hidup dalam persekutuan satu sama lain, berbagi semangat yang sama, dan dengan panggilan yang berbeda-beda secara khusus, melanjutkan misi yang telah ia mulai.

Kharisma Don Bosco terus menginspirasi orang-orang yang berkehendak baik. Saat ini terdapat 23 kelompok lain yang sedang mengajukan diri untuk menjadi anggota dalam Keluarga Salesian.

Sistem Preventif

Santo Yohanes Bosco adalah seorang pendidik luar biasa. Kecerdasan tajam, akal sehat, dan spiritualitasnya yang mendalam membuatnya mampu menciptakan sebuah sistem pendidikan yang mengembangkan seluruh pribadi—tubuh, hati, budi, dan jiwa. Sistem ini mendorong pertumbuhan dan kebebasan dengan menempatkan anak sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan.

Untuk membedakan metodenya dari sistem pendidikan represif yang lazim di Italia abad ke-19, ia menyebut pendekatannya sebagai “sistem preventif”—karena sistem ini berusaha mencegah perlunya hukuman dengan menempatkan anak dalam lingkungan yang mendorongnya untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Ini adalah pendekatan pendidikan yang bersahabat, ramah, dan menyeluruh.

Sistem ini menciptakan sebuah iklim yang “menarik keluar” (educere) hal-hal terbaik dari dalam diri anak, yang mendorong ekspresi diri yang penuh dan utuh, serta membantu kaum muda memperoleh kebiasaan-kebiasaan yang menuntun mereka untuk memilih hal-hal yang baik, sehat, menggembirakan, dan memperkaya kehidupan.